Musim Kemarau Berkepanjangan, Ratusan Hektar lahan Pertanian di Boltara Terdampak Kekeringan

Konten news – Musim kekeringan yang melanda wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 745 hektar lahan sawah berada dalam kondisi terdampak potensi sedang, sementara 74 hektar lainnya mengalami kondisi parah hingga sudah tidak bisa dikelola kembali.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pertanian Boltara Syarifuddin, menyatakan bahwa pihak pemerintah daerah telah menyiapkan langkah antisipasi bagi para petani yang mengalami gagal panen.
“Untuk petani padi dan jagung yang mengalami gagal panen, pemerintah akan memberikan bantuan pergantian benih,” ujar Syarifuddin saat diwawancarai.
Meski demikian, penanganan kekeringan untuk sektor hortikultura masih menghadapi kendala besar, khususnya terkait ketersediaan pasokan air. Wilayah pertanaman hortikultura yang didominasi area ladang membuat jarak menuju sumber air cukup jauh dari area pertanian warga.
Syarifuddin juga menjelaskan bahwa untuk tahun ini belum ada alokasi bantuan alat mesin pertanian (alsintan) berupa pompa air atau alkon baru dari dinas.
“Untuk tahun ini belum ada bantuan pompa air atau alkon pengisap air yang dialokasikan,” tambahnya.
Sebagai langkah penanganan cepat, Dinas Pertanian mengoptimalkan penggunaan alkon yang pernah disalurkan ke kelompok tani pada tahun-tahun sebelumnya. Tercatat, sebanyak 122 unit pompa air telah didistribusikan secara bertahap sejak tahun 2017.
“Upaya kita saat ini adalah memaksimalkan dan memberdayakan kembali alkon bantuan terdahulu yang sudah ada di kelompok tani,” jelasnya.
Saat ditanya mengenai jumlah pasti alkon yang saat ini aktif beroperasi di lapangan, pihak dinas mengaku belum memegang data secara detail. Pasalnya, pendataan menyeluruh masih menunggu laporan resmi dari para petugas penyuluh lapangan (PPL).
Kondisi senada juga terjadi pada pendataan tingkat kerusakan tanaman cabai dan jagung. Hingga saat ini, Dinas Pertanian belum menerima data rinci terkait luasan lahan cabai dan jagung yang terdampak karena masih memproses laporan dari para penyuluh di setiap wilayah.



